Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Cerita Sukses Pementasan Teater Cerita Rakyat Desa Anrang – Sastra Berjejak 2025

Kamis, 06 November 2025 | November 06, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-26T23:10:10Z



Pementasan Teater Cerita Rakyat Desa Anrang menjadi salah satu puncak kegiatan Sastra Berjejak 2025 yang diselenggarakan Rumah Nalar. Tahun ini, legenda yang dipilih untuk dipentaskan adalah “Asal Usul Penamaan Sungai Balantieng”, sebuah cerita tua yang selama ini diwariskan secara lisan oleh tetua kampung di Desa Anrang.

Cerita yang menjadi dasar pementasan ini berangkat dari penuturan para tetua, dengan salah satu versi terpenting yang mengisahkan Balang, seorang petani sekaligus penyadap aren yang hidup sederhana namun berakhlak mulia, dan Tieng, seorang gadis bangsawan kaya raya. Keduanya saling mencintai, tetapi kisah mereka terhalang oleh perbedaan status sosial, hingga peristiwa demi peristiwa yang mengiringi kisah cinta ini kemudian diyakini sebagai asal mula penamaan Sungai Balantieng. Cerita ini bukan hanya legenda cinta, tetapi juga kisah tentang perjuangan, martabat, serta hubungan manusia dengan alam sekitar.

Dari penuturan lisan tersebut, Rumah Nalar melakukan alih wahana menjadi teks melalui buku “Cerita Rakyat Desa Anrang: Sastra Berjejak dari Tanah Leluhur”. Buku ini menjadi pijakan penting, karena dari sinilah tim selanjutnya membentuk tim alih bahasa dari teks ke naskah pementasan (skrip). Alih wahana ini dilakukan secara bertahap dan teliti—mulai dari merangkai dialog, memetakan adegan, menghidupkan karakter, hingga menyusun struktur dramatik yang sesuai dengan nilai budaya setempat.

Skrip tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah pertunjukan teater yang luar biasa. Pementasan ini dimainkan oleh 13 pemeran yang terdiri dari anak-anak dan remaja Desa Anrang. Mereka berlatih secara intensif selama tiga pekan, mempelajari dialog, mendalami karakter, serta membangun kekuatan ensemble sebagai satu tim. Latihan ini bukan hanya proses artistik, tetapi juga ruang pendidikan karakter: disiplin, keberanian, empati, dan kerjasama.

Ide, konsep, dan aksi-aksi kreatif dari pementasan ini diprakarsai oleh Nurfadillah, S.Pd, seorang guru sekaligus pembina seni budaya dan Pramuka di Desa Anrang. Ia memimpin proses kreatif ini dengan penuh dedikasi, dibantu oleh beberapa asisten yang turut memperkuat kualitas pementasan. Kepemimpinan dan ketekunan mereka menjadi salah satu kunci keberhasilan pertunjukan ini.

Pementasan Asal Usul Penamaan Sungai Balantieng akhirnya berlangsung dengan sukses besar. Lebih dari 400 penonton hadir menyaksikan pertunjukan tersebut—sebuah angka yang mencerminkan betapa besar antusiasme masyarakat terhadap seni, budaya, dan warisan cerita lokal mereka. Penonton tidak hanya datang untuk menikmati hiburan, tetapi juga menyaksikan bagaimana generasi muda mengangkat kisah leluhur mereka ke panggung.

Dampak positif dari kegiatan ini mulai terlihat. MTs Tonrong Desa Anrang, terinspirasi dari pementasan ini, tengah merencanakan pembentukan komunitas seni budaya sebagai langkah nyata merawat tradisi, memperkaya kegiatan ekstrakurikuler, dan memperkuat identitas budaya di kalangan pelajar.

Melalui pementasan teater ini, Sastra Berjejak 2025 membuktikan bahwa sastra bukan hanya dapat dibaca, tetapi juga dapat ditampilkan, dirayakan, dan dihidupkan kembali. Teater menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara ingatan lisan dan ekspresi kreatif generasi muda, serta antara budaya lokal dan masa depan yang lebih sadar akan akar-akar identitasnya.

×
Berita Terbaru Update